Malang, malangterkini.id - Kabupaten Malang, Jawa Timur, dilanda cuaca ekstrem pada Sabtu, 22 Maret 2025. Hujan deras yang disertai angin kencang menerjang sejumlah wilayah, menyebabkan kerusakan signifikan pada puluhan rumah warga. Bencana ini terjadi antara pukul 14.30 hingga 16.30 WIB, melanda beberapa kecamatan, termasuk Sumbermajing Wetan, Tirtoyudo, Turen, dan Dampit.
Dampak Kerusakan yang Luas
Menurut Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, Sadono Irawan, hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi menjadi pemicu utama terjadinya angin kencang dan pohon tumbang. Akibatnya, 24 rumah warga mengalami kerusakan dengan tingkat yang bervariasi.
Dari total rumah yang rusak, 15 rumah mengalami kerusakan ringan, 4 rumah mengalami kerusakan sedang, dan 5 rumah mengalami kerusakan berat. Kerusakan ringan tersebar di beberapa lokasi, mencakup:
- 5 rumah di Dusun Purwodadi, Tirtoyudo
- 2 rumah di Dusun Tamban, Sumbermanjing Wetan
- 1 rumah di Dusun Gampingan, Tirtoyudo
- 1 rumah di Dusun Krajan Kulon, Sumawe
- 3 rumah di Desa Srimulyo, Dampit
- 2 rumah di Dusun Tretes, Tirtoyudo
- 1 rumah di Tawangrejeni, Turen
Sementara itu, kerusakan sedang terjadi pada:
- 1 rumah di Dusun Wonorejo, Sumbermajing Wetan
- 3 rumah di Dusun Tamban, Sumbermanjing Wetan
Kerusakan berat terkonsentrasi di Dusun Tamban, Sumbermanjing Wetan, dengan total 5 rumah terdampak. Selain rumah warga, satu fasilitas umum, yaitu Balai Pertemuan Nelayan yang terletak di Dusun Tamban, Sumbermanjing Wetan, juga mengalami kerusakan sedang.
Upaya Penanganan dan Bantuan
Meskipun kerusakan material cukup signifikan, kabar baiknya adalah tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. BPBD Kabupaten Malang telah melakukan asesmen dan koordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk menangani dampak bencana. Bantuan terpal telah didistribusikan kepada warga terdampak sebagai langkah awal untuk melindungi rumah mereka dari kerusakan lebih lanjut.
Saat ini, masyarakat setempat bahu-membahu melakukan kerja bakti untuk membersihkan puing-puing reruntuhan dan memperbaiki kerusakan. Upaya ini menunjukkan semangat gotong royong yang kuat di antara warga dalam menghadapi bencana.
Sejumlah pihak terlibat aktif dalam penanganan bencana ini, termasuk BPBD Kabupaten Malang, Muspika setempat, TNI-Polri, Palang Merah Indonesia (PMI), Taruna Siaga Bencana (Tagana), dan relawan lainnya. Kolaborasi lintas sektor ini sangat penting untuk memastikan penanganan bencana berjalan efektif dan efisien.
Pentingnya Kesiapsiagaan Menghadapi Cuaca Ekstrem
Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi cuaca ekstrem. Perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi dan intensitas kejadian cuaca ekstrem, seperti hujan deras dan angin kencang. Oleh karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah-langkah pencegahan untuk meminimalkan risiko kerusakan.
Pemerintah daerah juga perlu meningkatkan upaya mitigasi bencana, seperti memperkuat infrastruktur, meningkatkan sistem peringatan dini, dan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara menghadapi cuaca ekstrem. Selain itu, penting untuk menjaga kelestarian lingkungan, seperti mencegah penebangan hutan dan mengurangi emisi gas rumah kaca, untuk mengurangi dampak perubahan iklim.
Dengan kesiapsiagaan dan kerja sama dari semua pihak, diharapkan dampak bencana dapat diminimalkan dan masyarakat dapat lebih aman menghadapi cuaca ekstrem di masa mendatang.